Jumat, 21 Oktober 2016

Perempuan Sade Lombok, Hidup Mati Sebagai Penenun



Pernah mendengar nama Kampung Adat Sade di Pulau Lombok?. Itu lho, sebuah kampung adat tempat rumah tradisional suku sasak dengan lantai yang dipel kotoran sapi atau kerbau (what?, ekspresi jijik bukan kepalang). Tapi ada yang lebih penting untuk aku ceritakan dalam tulisan ini daripada cerita lantai kotoran kerbau yaitu tentang permasalahan perempuan. Masalah perempuan akan selalu menjadi hal yang kompleks untuk dibahas, bukan hanya terkait emansipasi tapi juga tentang sebuah paradigma kebebasan bagi perempuan kampung adat.

Bagi perempuan Kampung Sade, hidup mereka seolah telah ditakdirkan hanya akan menjadi seorang penenun. Tidak lebih tidak kurang, itulah paradigma yang tertanam di dalam pikiran bawah sadar mereka sejak mereka kecil. Jika anda berkunjung ke Kampung Sade, sempatkan bertanya kepada anak-anak perempuan di sana tentang cita-cita mereka, maka jawaban yang akan terlontar adalah “penenun”. Sungguh mulia cita-cita mereka yang ingin mempertahankan nilai luhur warisan budaya suku sasak Lombok.

“Selamat datang di Kampung Adat Sade, satu-satunya kampung adat yang masih mempertahankan keunikan masyarakat suku sasak Lombok”. Kalimat itulah yang akan terlontar dari guide lokal begitu anda memasuki gerbang Kampung Sade. Cerita selanjutnya akan mengalir seputar arsitektur bangunan yang kemudian akan berlanjut ke cerita perkawinan. Adat kawin lari adalah adat yang masih dipertahankan di kampung ini. Adat ini melegalkan seorang lelaki menculik perempuan yang ingin dinikahi. Dalam bahasa sasak pujut hal tersebut disebut “ngoros”.

Lantas apa hubungan adat kawin lari tersebut dengan cita-cita sebagai penenun?. Baiklah, akan aku jelaskan dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Perempuan Kampung Sade rata-rata menikah dalam usia belasan tahun. Rata-rata mereka hanya menamatkan sekolah hingga SD dan SMP saja bahkan banyak yang tak sekolah. Bisa dihitung dengan jari (jari tangan gak sampai habis) jumlah perempuan yang sekolah sampai SMA. Adat kawin lari kadang memaksa mereka untuk menikah cilik (jika tak layak disebut nikah dini). Sudah menjadi hal biasa anak perempuan usia 12 tahun tapi sudah menggendong anak bahkan aku pernah bertemu seorang perempuan Kampung Sade yang usianya baru 30 tahun tapi sudah punya cucu.

Yang paling tragis adalah nasib seorang gadis Sade, Bunga (nama samaran) usia 24 tahun dan sudah dicap perawan tua. Dengan wajah sedih ia menumpahkan curhatannya kepadaku bahwa sudah tidak ada lelaki single di Kampung Sade yang mau menikahinya. Harapannya hanyalah seorang duda atau poligami (what?, ini sangat menyedihkan). Usianya baru 24 tahun dan sudah putus asa terhadap pernikahan.  Saat aku bertemu dengannya usiaku  sudah 27 tahun dan saat itu aku belum menikah. Kalau dia yang usia 24 tahun saja disebut perawan tua, bagaimana dengan aku? Perawan sepuh gitu?.

Kembali ke pasal penenun. Nikah cilik dan rendahnya pendidikan membuat mereka seolah tak ada pilihan. Satu-satunya skill yang diajarkan orang tua sejak kecil hanyalah menenun. Tidak ada skill lain karena selain keterkungkungan secara paradigma mereka juga terkungkung secara pisik. Tidak ada satupun perempaun Kampung Sade yang bisa mengendarai motor. Di zaman serba modern seperti saat ini mereka hanya berdiam diri di rumah. Pagi menenun sambil layani wisatawan yang berbelanja, siang hari istirahat sebentar sambil mencari kutu, sore hari menenun lagi dan memasak, malam hari melayani suami. Kehidupan mereka berkelindan pada rutinitas itu-itu saja.

Jangan bicara facebook, email, google plus, apalagi blog sama mereka. Praktis mereka masih mencintai layanan sms bahkan banyak yang tak tau cara kirim sms. Banyak diantara mereka bahkan tidak tau bagaimana indahnya Pantai Kuta ataupun Pantai Tanjung Aan yang jaraknya cuma 15 menit dari Kampung Sade. Mereka liburan hanya jika ada acara pelesir bersama penduduk kampung lainnya menggunakan mobil pengangkut barang alias pick up itupun entah sekali dalam kurun waktu yang lama.

“Aku tidak berani keluar kampung nanti aku diculik”. Ucapan itu polos keluar dari seorang gadis usia 20 tahun. Dalam hati saya berdecak heran sambil bermonolog dengan diri “ Ini zaman android kan?. Zaman generasi Z atau apalah namanya. Ah, zaman itu tidak ada dalam dunia mereka”.

Hidup menjadi seorang penenun menuntut perempuan Kampung Sade harus sehat secara fisik dan mental. Untuk menyelesaikan satu kain tenun yang berkualitas mereka membutuhkan waktu seminggu hingga satu bulan tergantung motif. Mereka harus duduk berjam-jam dari pagi hingga sore hari. Jika dalam ilmu kesehatan, duduk terlalu lama bisa sebabkan sakit punggun. Duduk berjam-jam sambil menenun juga membutuhkan kesabaran yang tinggi. Coba bayangkan jika itu-itu saja yang anda kerjakan setiap hari. Kalau aku, pasti sudah stress tingkat ubun-ubun saking bosannya.

Sulitnya menyelesaikan kain tenun kadang tidak berbanding lurus dengan senyum ramah pembeli. Terkadang drama tawar menawar berlangsung sengit seperti yang pernah aku saksikan. Seorang wisatawan cantik dan gaya parlente menawar kain tenun motif rangrang benang emas kepada inaq Apang.

“Berapa harganya bu?”
“Kalau motif rangrang yang benang emas harganya 250.000”. Inaq Apang berbahasa Indonesia dengan aksen logat bahasa sasak Pujut.
“Wahhh,,mahal sekali. Pernah saya lihat di pameran di Jakarta harganya gak semahal itu”. Nada agak menekan mulai digunakan.
“Maaf bu, kalau yang benang emas memang segitu harganya. Kalau benang biasa baru bisa lebih murah”. Inaq Apang kekeh mempertahankan harga.
“Koq harga di Jakarta lebih murah. Ibu pernah ke Jakarta gak?. Bahasa mulai meremehkan. Perempuan Sade mana pernah ke Jakarta?. Dalam mimpi pun tidak pernah.
“ Ya sudah bu, kalau harga lebih murah di Jakarta, Ibu beli di jakarta saja”. Inaq Apang tetap tidak mau menurunkan harga.

Perempuan dengan tampilan parlente itu berlalu dengan wajah tanpa senyum. Baru beberapa langkah, ia kembali lagi dan menyodorkan uang 250 ribu rupiah lalu mengambil kain tenun sambil menggerutu tidak jelas.

Andai saja perempuan parlente itu tahu bahwa harga yang ia bayarkan ke Inaq Apang bukan hanya untuk dirinya. Setelah ia meninggalkan Kampung Sade maka datanglah guide lokal yang mengantar ia tadi dan meminta 40% keuntungan penjualan kain tersebut. Begitulah hidup perempuan Sade berkelindan setiap harinya. Jadi jika anda ibu-ibu parlente berbelanja kain tenun, jangan pernah menawar secara berlebih. Anggap saja anda sedang berbelanja di butik atau di mall yang harga kain tenun hingga jutaan tapi anda rela menggesek kartu kredit dengan senyum mengembang.

Newsletter

Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email.

Masih aktif menulis dibeberapa Blog dan website. Menjadi web designer di Sasambo Desain. Hobi travelling, reading, climbing, camping, hiking, swimming, and boxing

Terimkasih sudah berkunjung ke Lombok Blogger. Budayakan untuk berkomentar yang baik dan sesuai dengan materi postingan, komentar yang terlalu singkat kami anggap Spam dan tidak kami tanggapi
EmoticonEmoticon