Sukseskan Imunisasi Campak dan Rubela Untuk Kesehatan Anak Indonesia.



 Measles moves fast and we need to be faster~Dr.Vinod Kumar Bura (WHO)

 Mendengar statement di atas, saya mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat tetangga saya menangis sambil meminta tolong. Anaknya pingsan. Saya berlari dan mendapati anak tersebut pingsan dengan demam tinggi, mata merah, disertai ruam merah di tubuhnya. Setelah dibawa ke dokter praktek, anak tersebut harus dirujuk ke rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan, ternyata anak tersebut terkena penyakit campak. Dua minggu ia dirawat di rumah sakit. Saat ia pulang, hampir semua tetangga khawatir. Ada salah satu tetangga saya yang anaknya belum diimunisasi saat itu. Saya ingat, beberapa waktu sebelumnya ia sempat ragu untuk membawa anaknya imunisasi. Tapi setelah melihat anak yang diimunisasi saja bisa terkena dan sakitnya cukup parah, ia mulai berubah pikiran. 

 Mengenal penyakit Campak, Rubela, dan Sindrom Rubella Kongenital



Kita tidak bisa pungkiri bahwa pengetahuan masyarakat terhadap penyakit campak, rubela, dan sindrom rubella kongenital masih sangat kurang. Hal tersebut berakibat pada salahnya penanganan terhadap penderita penyakit tersebut yang mengakibatkan dampak buruk bahkan kematian. Pada tahun 2016, Indonesia menjadi negara dengan peringkat ke 6 di dunia dengan masyarakat yang tekena penyakit Campak.
 Campak merupakan penyakit infeksi virus akut dan sangat menular. Campak ditandai dengan tiga stadium yaitu stadium prodormal, erupsi, dan penyembuhan. Penyebab campak adalah virus measles, genus morbillivirus, famili paramyxoviridae. Cara penularan virus ini yaitu melalui percikan ludah dan melalui jalan napas. Campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi berat seperti radang paru, radang otak, diare, radang telinga, dehidrasi, dan yang terburuk berdampak kematian. 

Rubela merupakan penyakit infeksi virus akut, sangat menular, biasanya ringan pada anak yang ditandai dengan ruam, demam subfebril, pembesaran KGB subboccipifal/retroauricular. Penyebabnya penyakit ini adalah virus rubella, genus rubivirus, famili Togaviridae. Cara penularannya melalui saluran napas pada saat batuk atau bersin. Komplikasi berat adalah apabila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan dapat menyebabkan Sindrom Rubella Kongenital atau Congenital rubella syndrome (CRS) 

CRS merupakan sindrom kecacatan pada bayi yang baru lahir yang meliputi kelainan pada jantung dan mata, ketulian, dan keterlambatan perkembangan.Cara penularan CRS yaitu ibu hamil menulari janin melalui plasenta. Jika ibu hamil terinfeksi di usia kehamilan 12 minggu, resiko janin tertular sebesar 80-90% dan jika infeksi di kehamilan 15-30 minggu, risiko janin tertular sebesar 10-20%.

Imunisasi Measles Rubela (MR) sebagai solusi. 


Untuk mencapai target sustainable development goals (SDG), salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam bidang kesehatan adalah melakukan Imunisasi Measles Rubela (MR). Imunisasi telah terbukti mampu menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit menular di dunia. Selain itu, imunisasi mampu mengeliminasi beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Sebagai bentuk dukungan kepada program pemerintah, pengurus pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bekerjasama dengan Kementrian Keseharan RI dan WHO mengadakan seminar dan pelatihan "Advokasi untuk kampanye imunisasi MR fase II dan surveilans PD3I" di Pulau Lombok pada tanggal 30 Juli 2018. Acara yang bertempat di hotel Aston Inn Kota Mataram tersebut dihadiri oleh anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia cabang NTB, anggota Ikatan Dokter Indonesia, anggota Ikatan Bidan Indonesia, anggota Ikatan Perawat Nasional Indonesia, perwakilan dari Kementrian Kesehatan RI, dan perwakilan dari WHO. 

Tujuan dari acara tersebut adalah untuk memberikan penyegaran kepada tenaga kesehatan lintas sektor mengenai pelayanan imunisasi, mempersiapkan tenaga kesehatan untuk menyukseskan kampanye imunisasi MR fase II di luar Pulau Jawa, serta untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan mengenai surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). 

Program imunisasi campak dan rubela (MR) fase II akan dilaksanakan di 28 provinsi dengan target 31.963.000 anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Di provinsi NTB akan dilakukan pada bulan agustus dan september 2018. Pada bulan agustus, imunisasi akan dilakukan di sekolah-sekolah se-NTB yaitu dengan jenjang SD,SMP, dan remaja kela satu SMA yang usianya 15 tahun. Untuk tahap kedua pada bulan september imunisasi dilakukan untuk anak yang putus sekolah serta anak-anak yang belum sekolah. Perlu diperhatikan bahwa imunisasi MR tersebut bersifat GRATIS. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan dana sebesar 1,6 Triliun untuk pengadaan vaksin MR. 


Keberhasilan program imusiasi MR sangat penting dalam pembangunan kesehatan anak Indonesia. Selain upaya yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan, masyarakat Indonesia secara umum harus mensukseskan program tersebut. Prof.Dr. Jose R.L. Batubara dalam materi advokasi imunisasi untuk mengatasi keraguan dan antivaksin menyampaikan bahwa program imunisasi mengalami penolakan oleh sekelompok masyarakat. 

Alasan penolakan kebanyakan karena faktor agama, faktor kurang pengetahuan, dan ketakutan akan efek samping yang dikhawatirkan muncul akibat imunisasi. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan bahwa vaksin imunisasi yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia bersifat halal sudah disetujui oleh MUI. Selain itu vaksin tersebut sudah lulus uji BPOM RI. Imunisasi sudah menjadi program di dunia termasuk negara-negara arab yang notabene menerapkan negara islam.

 Fakta dan mitos tentang imunisasi 

Mitos 1 : Higiene dan sanitasi yang baik cukup dalam memberantas penyakit.
Fakta 1 : Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi dapat menyerang kembali apabila program vaksinasi dihentikan. Sementara perbaikan kebersihan, cuci tangan, dan air yang bersih dapat melindungi kita dari penyakit infeksi, banyak penyakit infeksi yang tetap menyebar seberapapun bersihnya seseorang. Jika orang-orang tidak divaksinasi, penyakit yang tidak biasa ditemukan seperti campak dan polio dapat dengan cepat timbul kembali.

Mitos 2: Vaksin memiliki beberapa kerugian dan efek samping jangka panjang yang belum diketahui, Vaksinasi bahkan bisa berakibat fatal.
Fakta 2 : Vaksin itu aman. Kebanyakan reaksi vaksin bersifat minor dan sementara seperti nyeri ditempat penyuntikan dan demam ringan. Masalah kesehatan serius atau berat sangat jarang terjadi dan diinvestigasi dan dimonitori secara ketat. Orang-orang jauh lebih beresiko untuk sakit parah akibat terinfeksi penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin daripada karena divaksin .

Mitos 3 : Penyakit-penyakit masa kanak-kanak yang dapat dicegah dengan imunisasi hanya salah satu musibah yang wajar dalam hidup.
Fakta 3 : Penyakit seperti campak dan rubela merupakan penyakit serius yang dapat menyebabkan komplikasi yang serius baik pada orang dewasa maupun anak-anak termasuk pneumonia, radang otak, kebutaan, diare, infeksi telinga, CRS, dan kematian. Penyakit tersebut bisa dicegah dengan vaksin. Kegagalan dalam memberikan vaksin membuat anak-anak rentan terhadap penyakit yang seharusnya tidak perlu.

Mitos 4 : Lebih baik kebal melalui penyakit daripada vaksin.
Fakta 4 : Vaksin berinteraksi dengan sistim imun tubuh kita untuk menghasilkan respons imu yang sama dengan respons imun infeksi alamiah, tetapi vaksin tidak menyebabkan sakit yang membuat seseorang menderita komplikasi. Komplikasi inilah yang berbahaya jika seseorang sakit dan belum divaksin.

Masih banyak mitos-mitos yang beredar di masyarakat seputar imunisasi. Akan tetapi, masyarakat harus aktif dalam menggali informasi agar tidak terjebak dalam pemaham yang salah. Untuk mengetahui informasi seputar imunisasi, masyarakat dapat mendowload aplikasi PrimaKu secara gratis di play store. 

Untuk masyarakat NTB yang memiliki anak usia 9 bulan sampai 15 tahun jangan lupa untuk mensukseskan program imunisasi campak dan rubela (MR) secara GRATIS pada bulan Agustus-September 2018. Info lebih lengkap bisa menghubungi kader posyandu atau petugas kesehatan di lingkungan masing-masing. Salam Indonesia Sehat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Form Kontak Pada Blogger

Cara Mengganti Alamat Url Fanpage Facebook

Cara Mendaftarkan Blog pada Feed Burner